Kantin, Ruang Santai, dan Lubang Kunci Peradaban
Kantin yang hidup adalah tanda bahwa kampus itu punya denyut nadi. Ia adalah tempat di mana "hidden curriculum"—kurikulum tersembunyi—berlangsung.
Kantin yang hidup adalah tanda bahwa kampus itu punya denyut nadi. Ia adalah tempat di mana "hidden curriculum"—kurikulum tersembunyi—berlangsung.
Bayangkan, ada kampus tanpa kantin. Atau, kantinnya cuma sepetak warung kopi instan tanpa kursi. Mahasiswa datang, masuk kelas, duduk diam mendengarkan, lalu pulang. Tak ada tempat untuk mereka berhimpun setelah kelas usai atau bolos karena dosennya membosankan. Tak ada meja yang penuh coretan kosong dan bekas tumpahan sambal, di mana teori yang tadi disampaikan dosen dirobek-ulang, diperdebatkan, atau bahkan ditertawakan.
Sungguh, itu bukan sekadar masalah perut. Itu adalah masalah nalar dan persaudaraan.
Sebaliknya, bayangkan juga kampus yang kantin dan ruang santainya megah, ber-AC, nyaman, tapi perbincangan yang mengisi ruang itu hanya tentang gosip selebriti, rencana nongkrong akhir pekan, atau keluhan soal tugas yang boring. Tak ada percikan debat tentang isu kontemporer, tak ada rencana membangun proyek bersama, tak ada obrolan hangat tentang masa depan yang mereka khawatirkan. Apalagi kepulan asap tebal rokok.
Itu pun bukan sekadar masalah selera. Itu adalah masalah jiwa dan gairah intelektual.
Ruang santai—entah itu kantin, lobi, taman, atau mushalla—adalah laboratorium sosial paling nyata di sebuah kampus. Di sanalah ilmu yang kaku di ruang kuliah, dicairkan dan diuji dalam percakapan. Di sanalah teori ekonomi tak lagi berupa kurva, tapi jadi bahan diskusi tentang harga nasi goreng yang naik. Di sanalah teori sosiologi menjelma jadi analisis atas dinamika kelompok anak-anak organisasi yang sedang duduk di meja sebelah.
Kantin Sebagai Ruang Demokrasi Kecil
Dalam sejarah, banyak pemikiran besar justru lahir bukan di ruang kuliah, tapi di kafe. Di meja-meja sederhana itulah terjadi pertukaran ide yang setara. Tidak ada hierarki dosen-mahasiswa. Yang ada adalah teman seperguruan yang saling menguji argumen. Seorang mahasiswa semester akhir bisa dengan bebas mengkritisi teori yang diajarkan profesor, sambil menyeruput kopi. Seorang mahasiswa baru bisa mendengarkan dengan takjub perdebatan seniornya tentang politik global.
Kantin yang hidup adalah tanda bahwa kampus itu punya denyut nadi. Ia adalah tempat di mana "hidden curriculum"—kurikulum tersembunyi—berlangsung. Di sini mahasiswa belajar bernegosiasi, memimpin diskusi, mendengarkan pendapat berbeda, dan membangun koalisi. Ini adalah kompetensi lunak (soft skills) yang tak akan pernah diajarkan secara formal di silabus, tapi justru menentukan kesuksesan mereka di dunia nyata.
Ketika Ruang Santai Bisu
Lalu, bagaimana jika ruang santai itu bisu? Atau ramai dengan obrolan yang hambar? Itu adalah gejala yang mengkhawatirkan. Itu berarti:
Kelas tidak cukup memantik. Jika materi kuliah tidak cukup menantang atau relevan, ia akan langsung dilupakan begitu bel pulang berbunyi. Tak ada yang perlu didiskusikan lebih lanjut.
Kampus tidak menciptakan "iklim bertanya". Jika atmosfer kampus terlalu birokratis, kaku, atau menakutkan, mahasiswa akan memilih untuk diam. Mereka tidak merasa aman untuk mengungkapkan pemikiran yang masih setengah matang, yang justru perlu diasah dalam percakapan santai.
Komunitas tidak terbentuk. Kampus hanyalah sebuah tempat transaksi: bayar SPP, dapat ilmu (atau gelar), lalu keluar. Tidak ada rasa memiliki, tidak ada ikatan kolegial yang akan menjadi jaringan berharga di kemudian hari.
Maka, Bukan Hanya Membangun Gedung
Membangun kantin yang megah itu mudah. Yang sulit adalah menghidupkannya. Bagaimana caranya?
Dosen Harus "Nongkrong" (Sesekali). Bukan untuk mengawasi, tapi untuk mendengarkan. Saat seorang dosen turun duduk di kantin, memesan teh hangat, dan terlibat dalam obrolan mahasiswa—walau hanya 15 menit—ia telah meruntuhkan tembok. Ia mengirim pesan: "Pemikiran kalian penting. Diskusi kalian berharga."
Fasilitasi "Klub-klub Mini". Kampus bisa menyediakan papan pengumuman kecil di kantin atau mendukung pembentukan kelompok diskusi informal berdasarkan minat: Klub Baca Filsafat, Kelompok Diskusi Isu Lingkungan, bahkan Klub Debat Stand-up Comedy. Beri mereka sedikit anggaran untuk kopi dan kue.
Jadikan Ruang Santai sebagai Ekstensi Kelas. Berikan tugas yang mengharuskan mahasiswa berdiskusi di luar kelas dan mendokumentasikan ide mereka—bisa di kertas bekas tatakan gelas atau direkam singkat—untuk dibahas kembali di pertemuan formal. Akui proses itu sebagai bagian dari pembelajaran.
Biarkan "Kekacauan" Kreatif Itu Ada. Jangan selalu merapikan meja yang penuh coretan. Jangan buru-buru menyuruh mahasiswa yang duduk sampai larut untuk pulang. Kreativitas dan pemikiran kritis seringkali lahir dalam suasana yang agak messy dan tidak terstruktur.
Dari Perut, Lahirlah Pikiran Besar
Pada akhirnya, kampus bukanlah sekumpulan gedung kuliah dan perpustakaan. Ia adalah sebuah komunitas yang bernafas. Ruang santai adalah paru-parunya. Di sanalah oksigen—berupa ide, kritik, mimpi, dan gelak tawa—disirkulasi.
Jika kita ingin membangun SDM yang kritis, kolaboratif, dan punya jiwa sosial, jangan hanya fokus pada reviu kurikulum atau penambahan lab komputer. Dengarkanlah suara di kantin. Amati dinamika di ruang santai. Hidupkan percakapan-percakapan serius di antara tawa, sendok berdenting, dan kepulan asap rokok yang membahana.
Karena, percayalah, tidak sedikit tesis brilian, strategi bisnis yang jitu, atau bahkan gerakan sosial yang mengubah banyak hal, berawal dari obrolan serius di sebuah meja kantin, ditemani semangkuk mie instans, es teh, segelas kopi hitam, dan kepulan asap rokok. Di sanalah, sesungguhnya, peradaban kampus itu dirawat.

Post a Comment