Wirid Khusus untuk Para Wali: Mengenal Amalan dan Bacaan Hadiah bagi Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa




Saat berziarah ke makam para wali songo, umumnya kita membacakan tahlil, ayat-ayat Al-Qur’an pilihan, atau doa-doa bersama. Namun, ada tradisi wirid yang lebih khusus dan tidak biasa, yang konon bersumber dari riwayat atau petunjuk spiritual tertentu. Wirid ini berupa rangkaian bacaan spesifik yang dihadiahkan untuk masing-masing wali, dengan harapan mendapatkan keberkahan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui wasilah (perantara) para penyebar Islam di Nusantara ini.

Berikut ini adalah Bacaan Hadiah untuk Para Wali yang beredar di kalangan tertentu, khususnya para peziarah yang mendalam secara spiritual. Perlu diingat, amalan ini adalah bagian dari khazanah lokal dan tidak menggantikan syariat Islam yang utama. Pelaksanaannya sebaiknya disertai dengan niat yang tulus dan pemahaman yang baik.

Daftar Wirid Khusus untuk Wali Songo

1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim):
   · Bacaan: Surat Al-Kahfi 1x.
   · Makna Simbolik: Surat Al-Kahfi melambangkan perlindungan dari fitnah dan kekuatan iman, cocok dengan perjuangan beliau sebagai perintis.
2. Sunan Ampel (Raden Rahmat):
   · Bacaan: Surat Al-Fatihah 101x.
   · Makna Simbolik: Surat pembuka yang menjadi inti segala doa, mencerminkan peran beliau sebagai "ampu" atau pusat pendidikan awal.
3. Sunan Giri (Raden Paku):
   · Bacaan: Surat Maryam 3x dan Surat Asy-Syams 117x.
   · Makna Simbolik: Surat Maryam mengisahkan kelahiran Nabi Isa AS tanpa ayah, mengingatkan pada karomah, sementara Asy-Syams (matahari) melambangkan penyinaran ilmu yang terang benderang dari Giri.
4. Sunan Bonang (Raden Maulana Makdum Ibrahim):
   · Bacaan: Surat Al-Ikhlas 333x.
   · Makna Simbolik: Penguatan tauhid murni, sesuai dengan metode dakwah beliau yang menyentuh hati melalui seni dan pendekatan hakikat.
5. Sunan Drajat (Raden Qasim):
   · Bacaan: Doa Sapu Jagat (Robbana atina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina adzaban nar) 505x.
   · Makna Simbolik: Selaras dengan kepedulian sosial beliau yang sangat tinggi terhadap kaum dhuafa dan kesejahteraan dunia-akhirat.
6. Sunan Kalijaga (Raden Said):
   · Bacaan: Syahadatain (Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah) 1001x.
   · Makna Simbolik: Inti dari dakwah beliau yang menyelipkan Islam dalam budaya, mengajak pada pengakuan hati yang mendalam terhadap Allah dan Rasul-Nya.
7. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah):
   · Bacaan: Syahadatain 101x dan Surat Al-Fatihah 101x.
   · Makna Simbolik: Gabungan penguatan syahadat sebagai dasar dan Al-Fatihah sebagai doa, mencerminkan peran beliau sebagai pemimpin spiritual dan politik.
8. Sunan Kudus (Ja'far Shadiq):
   · Bacaan: Surat Ash-Shaffat 1x dan Surat Al-Waqi'ah 1x.
   · Makna Simbolik: Ash-Shaffat menguatkan keimanan pada para rasul, sementara Al-Waqi'ah tentang hari akhir dan rezeki, menunjukkan keseimbangan ilmu beliau.
9. Sunan Muria (Raden Umar Said):
   · Bacaan: Surat Al-Fatihah 116x dan Surat Al-Hujurat 3x.
   · Makna Simbolik: Al-Hujurat mengajarkan adab, yang mungkin terkait dengan dakwah beliau di kalangan masyarakat pedesaan yang penuh dengan tata krama.
10. Sunan Sendang Duwur (Raden Noer Rahmad):
    · Bacaan: Surat Al-Ikhlas 700x.
    · Makna Simbolik: Penegasan kembali pada kemurnian tauhid, menyempurnakan rantai spiritual para wali.

Khusus: Asmorokondi
Sebelum wirid untuk wali, sering kali diawali dengan bacaan untuk Asmorokondi (dipercaya sebagai penjaga atau entitas spiritual tertentu):

· Bacaan: Surat Al-Fatihah 117x dan Surat Al-Ikhlas 117x.

Penutup dan Catatan Penting

Wiridan ini memang tidak biasa. Biasanya, orang ziarah membaca tahlil secara bersama. Namun, wirid ini bersumber dari riwayat atau petunjuk yang dianggap khusus oleh sebagian kalangan. Penting untuk dipahami:

· Amalan ini adalah bentuk kecintaan (tawassul bil amal) dan penghormatan, bukan ibadah wajib.
· Niat utama tetaplah mencari ridha Allah SWT.
· Keutamaan dan keberkahan sejati terletak pada keikhlasan, pemahaman makna, dan konsistensi dalam menjalankan perintah agama, bukan sekadar hitungan.
· Jangan sampai mengabaikan ibadah-ibadah fardhu karena fokus pada amalan sunnah tertentu.

Bagi para peziarah, menghadiahkan bacaan Al-Qur'an dan zikir untuk para wali adalah tradisi yang penuh makna. Ia menjadi jembatan spiritual, mengingat jasa-jasa mereka, sekaligus mengisi diri sendiri dengan pahala kebaikan. Yang terpenting adalah kita mengambil spirit perjuangan mereka: menyebarkan Islam dengan bijak, damai, dan penuh hikmah.

Artikel ini ditulis untuk melestarikan kearifan lokal dan informasi tradisi. Pembaca disarankan untuk menanyakan lebih lanjut kepada ahli agama yang memahami konteksnya.

---

Sumber: Tradisi lisan dan catatan masyarakat pesantren Jawa.
Ditulis untuk: Caklul.net -

Tidak ada komentar