Setahun Menggiling Kopi, Irit untuk Dinikmati
Setahun sudah saya ngopi dengan cara menggiling biji kopi secara manual dan rutin. Bahkan beberapa kali acara keluar kota saya bawa grinder merek Jepang ini ikut serta. Ini adalah salah satu cara menikmati kopi yang lebih maksimal.
Saya percaya, menyimpan biji kopi lebih utama daripada menyimpan bubuk kopi. Saya lebih suka membeli kebutuhan dasar saya untuk jangka waktu yang panjang, termasuk kopi dan tembakau. Ini bagian dari problem "stock and financial management" saya. Kalau saya tidak menyiapkan kebutuhan ini dengan baik, saya bisa kelabakan saat tidak punya uang. Sebab, uang saya suka tidak betah lama-lama di kantung saya.
Mengapa biji, bukan bubuk? Atau, mengapa memakai grinder? Ini dua pertanyaan yang membuat saya bingung mulai dari mana.
Terus terang, saya punya grinder sebelum punya ide dan rencana beli biji kopi. Saat itu, entah saya lupa waktu tepatnya, senior saya Cak Nur Hamid memberikan saya grinder kopi yang unik. Beliau bukan pengopi serius. Kalau bertamu, sukanya minta teh tawar panas. Bukan hanya grinder, beliau juga memberikan gelas penyaring kopi merek kapal api. Karena beliau tidak butuh dan menyuruh membawa, akhirnya dua barang ini saya angkut pulang dan saya simpan. Penyaring kopi tentu lebih bermanfaat karena langsung bisa dipraktikkan. Sedangkan grinder, hanya jadi pajangan.
Setelah beberapa lama, adik saya di Semarang menawari saya biji kopi yang sudah diroasting. Dia bilang, ada tamu dari Jember yang memberikan beberapa kantung biji kopi. Karena bukan pengopi serius dan butuh upaya lebih untuk menikmati, biji-biji itu hanya menganggur dan dicariikan tuan yang tepat. Dan, saya adalah tamu yang tepat untuk menerima bingkisan ini.
Alhasil, grinder dari Cak Nur Hamid langsung bermanfaat. Dengan penuh semangat, saya giling biji-biji kopi Arabica asal Jember itu. Saking semangatnya, gagang pegangan untuk menggiling jebol. Biji kopi masih banyak. Akhirnya, gagang itu saya ganti gagang pintu lemari. Walau jebol juga, kopi akhirnya habis.
Pada suatu kesempatan, saya berkunjung ke kantor Halal Institute. Di sana saya bertemu para pengopi serius. Ali Musthofa menawari saya. "Ngopi, Cak?" Tentu saja saya tidak menolak. Rupanya, Topa sudah naik level. Dia bukan sekadar menjadi pengopi serius, melainkan pengopi super serius yang moderat.
Topa keluar dari kamarnya dengan seperangkat Coffee Maker manual: Grinder besi, biji kopi, timbangan, ketel angsa, kertas saringan, dan teko kaca. Dia memasak air dalam ketel angsa. Digilingnya biji-biji kopi yang telah ditimbang. Setelah air mendidih, dimatikan api, didiamkan, "sudah setengah menit belum?" tanyanya. Bubuk kopi hasil gilingannya dimasukkan ke dalam kertas saringan lalu disiramkannya air panas. Air mengucur ke dalam teko kaca hingga beberapa mililiter. Kemudian dia menuangkan ke dalam beberapa gelas kecil untuk kami bertiga. "Hmmm.. Ini ngopi lebih serius..."
Sebelumnya, saya punya teman yunior juga yang super serius dalam ngopi. Namanya Anam. Saat main ke rumah saya tawari kopi, dia menolak. "Saya tidak bisa ngopi sembarangan," katanya. Suatu saat saya main, dia rupanya sangat detail dalam menyiapkan kopi. Mirip dengan yang dilakukan Topa. Bedanya, dia tidak menggiling kopi sendiri.
Hingga pada suatu saat, saya berkunjung ke rumah senior, Pak Joko Krismiyanto. Rupanya aroma kopi dari rumahnya sangat kuat menyelimuti lingkungan rumahnya. Beberapa toples biji kopi dipajang di ruang tamu rumahnya. "Saya sekarang punya mainan baru. Ini adalah hasil panen kebun kopi saya yang di Cisarua, Bogor," ungkapnya. Rasanya kok tidak pantas kalau saya tidak minta. Hahaha. Akhirnya saya dibawakan biji Arabica sekitar 250 gr. Aroma cerinya sangat kuat, begitu rasanya.
Saya menggiling biji-biji kopi Arabica ini dengan semangat penuh perjuangan. Gagang grinder yang rusak itu saya paksa agar tetap bisa menghabiskan kopi hibah itu. Akhirnya, saya coba beli grinder berbahan plastik. Tampaknya bagus. Namun, setelah tiga kali menggiling, gagangnya kembali hancur.
Saya penasaran dengan grinder yang dipakai Topa. Saya cari-cari di olshop. Namun, saya takut kecewa terlalu cepat, saya cari berbagai review dan cerita di Youtube. Rupanya, ada yang review harga 700-1 jutaan lah yang direkomendasikan. Wah... Lumayan juga. Setelah cari-cari lagi saya memutuskan untuk membeli merek KANAZAWA. Harganya sekitar 300-an ribu. Harga yang cukup pantas saya perjuangkan. 23 Mei 2025 grinder datang. Langsung saya coba. Saya foto, saya kirimkan ke Topa, Anam, dan Pak Joko. Saya kabarkan kepada mereka, saya siap menjadi pengopi lebih serius.
Saya bilang ke Topa, "Mencoba mulai menggiling dewe. Tapi durung ngerti ukurane." Dia menjawab, "Youtube akeh cak tutorial e" ditambah, "Isi full jd 2 gelas". Inilah yang saya pegang.
Saya juga bilang ke Joko, "Saya beli grinder kopi baru supaya bisa giling kopi arabica lagi. Kalau saya beli 1 kg berapa, senior?" Beliau langsung menjawab, "Kalau buat sekum ikaptiq gak usah bayar ðŸ¤". Tidak lama kemudian, saya berkunjung ke kediaman Pak Joko. Pulangnya saya dibawakan biji kopi Arabica lebih dari 1 kg. Bahkan mungkin 2 kg. Alhamdulillah... Misi berhasil. Hahaha.
Berbulan-bulan saya menikmati kopi Arabica dari Pak Joko. Kadang saya campur dengan kopi Robusta untuk memberikan sensasi yang berbeda. Kalau hanya kopi Arabica, rasanya terlalu enak, dan sayang saja kalau cepat habis.
Dan mengapa biji kopi? Setelah menonton berbagai tutorial cara membuat kopi serius, ada satu pernyataan yang perlu saya ingat, "Rasa dan aroma biji kopi lebih awet disimpan daripada bubuk kopi," Kira-kira itulah pesannya. Kenyataan yang saya alami memang begitu. Aroma kopi hasil gilingan sendiri selalu masih kuat. Begitu juga rasanya. Dibandingkan dengan yang bubuk, aroma dan rasanya lebih cepat berubah dibandingkan saat pertama kali saya rasakan.
Dan yang terakhir, grinder berbahan tembaga ini masih bertahan setelah satu tahun saya paksa melayani ngopi saya. Bukan hanya untuk menghaluskan kopi, tetapi juga melatih otot tangan saya. Kadang, anak bontot saya yang 4 tahun penasaran untuk unjuk kekuatan dengan menggiling biji kopi ini...
Post a Comment