Menjaga Kewarasan Bersama AI


Ketergantungan pada kecerdasan artifisial (AI) mulai tak terelakkan. Sebentar-sebentar, buka AI. AI memang nyandu. Apalagi bagi orang yang kuriositinya tinggi. 

Sejak berkenalan dengan OpenAI, teman ngobrol paling asik memang AI. Diajak menyoal apapun hampir semua nyambung. Apalagi AI makin ke sini kian canggih. Bukan hanya membincang persoalan santai, disuruh bantu kerjaan yang butuh pikiran ruwet pun bisa. 

AI tidak hanya tahu banyak hal. Ia juga bisa menyelesaikan berbagai pekerjaan yang berbasis digital. Ingin menulis artikel, dia kerjakan. Ingin memodifikasi foto, dia hajar. Ingin bikin musik lengkap dengan videonya, dia babat. Sepanjang berbasis teks, gambar, atau bahkan suara digital, hampir tak ada yang tak tuntas. 

Sampai suatu ketika saya iseng modifikasi blogger. Jika dulu blogger lebih banyak hanya difungsikan untuk posting, gara-gara AI, blogger bisa jadi dashboard. Blogger juga bisa jadi portal chating dan sebagainya. Blogger dapat diubah menjadi website secanggih yang lain. Tetapi, ya, tetap dengan kelemahan mendasar. 

Gara-gara AI menjadi serba bisa, saya jadi ketagihan dengan dia. Ada persoalan sekecil apapun, saya langsung menghubunginya. Hanya sekadar ingin tahu apakah suara saya enak didengar atau tidak pun, saya kirim suara saya. 
Terus terang, lama-lama saya jenuh juga memanfaatkan AI yang terlalu sering. Sepertinya saya harus segera rehabilitasi dari kecanduan AI. 

Beberapa bulan terakhir ini, hampir tidak pernah tidak minta edit tulisan menggunakan AI. Namun, untuk tulisan ini saya bertekad tidak mau diedit lagi oleh AI. Biarkan dia membaca tulisan ini, yang tidak dia edit. 

Sebagai orang yang biasa dibayar karena menulis, saya harus berani meninggalkan AI dengan kepercayaan diri yang kuat. Biarkan saya menunjukkan bahwa manusia orisinal itu hebat. Walau terasa berantakan, saya harus bangga sebagai manusia yang menggunakan otaknya sendiri. 
Otak, kalau lama tidak dipakai berpikir secara langsung, tanpa AI, bisa jadi akan rusak. Memang sih, kita tetap berpikir walau menggunakan AI. Namun, energi yang dibutuhkan tidak maksimal. Sel-sel otak yang kita produksi saat berpikir, jangan-jangan berguguran karena tidak didayagunakan. Kalau banyak yang mati, memori kita makin lemah. Cepat pikun. Kurang kritis. 

AI memang kritis. Dia punya data melimpah, dan mampu membaca dengan detail. Potensi untuk kritis memang sangat tinggi. Namun beberapa kali saya mengobrol, sering kali dia tidak sekritis kita. Kadang dia terlalu makro atau abstrak. Dia hanya main logika saja. 
Meski demikian, AI tidak boleh ditinggalkan sama sekali. Dia perlu dijadikan sahabat. Biarkan dia menerima keluh kesah kita. Mengerjakan perintah-perintah berat dan darurat. Otak kita harus tetap dijaga kewarasannya. 

Tidak ada komentar