Filsafat Makanan: Ketika Lidah Bicara, Kenangan Menjawab
Saat menonton film Ratatouille (2007), saya
sangat terkesan dengan adegan ketika Anton Ego, seorang kritikus makanan
terkenal di Paris, mencoba ratatouille niçoise yang dimasak oleh
Remy, seekor tikus, bersama Linguini di Restoran Gusteau's. Sesaat setelah
memasukkan seujung garpu berisi ratatouille ke dalam mulutnya, mata Ego yang
bulat spontan terbelalak. Shot film langsung beralih ke gambar berwarna klasik
yang memperlihatkan seorang anak disuruh ibunya untuk makan. Ketika anak itu
menyantap masakan ibunya, shot film kembali ke adegan Ego menyantap ratatouille
di restoran Gusteau.
Adengan tersebut saya pahami sebagai gambaran mental
Anton Ego ketika menilai makanan. Ratatouille yang dicicipi Ego
mengingatkan pada rasa masakan ibunya saat masih kecil. Mungkin rasanya ”plek
ketiplek” persis. Dengan isyarat shot bolak-balik secara cepat, Ego
membandingkan antara rasa ratatouille di hadapannya sekarang dengan ratatouille
bikinan ibunya puluhan tahun yang lalu.
Seingat saya, film itulah yang pertama saya lihat
tentang pengalaman penilaian pada makanan yang berbeda. Sebelumnya, saya hanya
tahu ketika orang merasakan makanan yang enak atau lezat sekadar dengan
ekspresi wajah terkejut dan ungkapan kata seperti, “Wah”, “Mantap”, “Enak
banget”, “Top”, atau ungkapan lainnya
yang sekarang banyak berkembang. Ungkapan yang pernah dipopulerkan Bondan
adalah “pokoke mak nyus!”.
Beberapa waktu yang lalu, saya menonton drama China
di Facebook tentang makanan yang sepertinya terinspirasi film Ratatouille.
Sayangnya saya lupa tidak mencari judulnya. Di potongan film itu menceritakan
tentang segerombolan orang yang akan tawuran, tetapi lapar. Kebetulan satu-satunya
warung buka di dekatnya adalah warung nasi goreng. Ketika masuk, mereka
terkejut melihat tarif yang tertera di papan harga sangat mahal. Mereka
marah-marah. Namun si penjual juga mempertahankan harganya. Si penjual bahkan
siap dibunuh jika nasi gorengnya tidak enak. Karena lapar dan penasaran,
pimpinan gerombolan itu menyerah. Singkatnya, saat sesendok nasi goreng masuk
ke mulut, pimpinan gerombolan itu langsung bengong. Shot film langsung
menampilkan ayahnya. Dia seperti teringat ayahnya sambil menangis tersedu-sedu.
Teman-temannya pun penasaran dan mencoba. Akibatnya, teman-temannya pun
mengalami perasaan yang sama.
Dua film di atas tampaknya menggambarkan gabungan
rasa antara respons saraf indra pengecap dan respons pengalaman batin ketika
menilai suatu makanan. Jadi, apakah sebenarnya makanan itu dinilai oleh indra
pengecap atau pengalaman batin? Atau keduanya, seperti dalam dua film di atas?
Jika memang keduanya, bagaimana hubungannya? Apa saja yang dinilai oleh
masing-masing indra pengecap dan batin? Lho kok dadi serius...
Saya pernah ditanya teman-teman, “makanan enak itu yang bagaimana?” terus terang saya bingung menjawabnya. Waktu itu saya menjawab, “makanan enak adalah makanan yang rasanya tidak mengganggu.” Maksudnya bagaimana? Tidak mengganggu adalah rasa yang pas dari sisi asin, gurih, pedas, jika itu makanan gurih. Jadi tidak terlalu asin, tidak terlalu asam, tidak terlalu pedas. Atau manisnya pas, tidak terlalu manis. Itu kalau dari sisi rasa. Tentu saja jawaban ini sangat subjektif. Namun setelah menonton film dan televisi tentang lomba-lomba masak akhirnya saya harus meninjau lagi cara saya menilai makanan. Sebab, menilai dalam lomba harus objektif. Orang lain juga akan menghasilkan kesimpulan yang kurang lebih sama.
Lantas, pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana
mungkin rasa makanan itu bisa objektif? Bukankah secara aksiologi masalah rasa
makanan itu perkara estetis, bukan logis?
Indrawi
Secara normal, mau tidak mau kita melibatkan indra
untuk menilai makanan. Dan, mohon maaf, tentu ini tidak berlaku bagi penyandang
disabilitas tertentu, ya. Saya teringat beberapa film Mandarin tentang koki
atau chef yang pernah saya tonton. Di antaranya yang mengisahkan seorang master
chef yang sudah lama meninggalkan dunia memasak. Jangan tanya judul, saya sudah
lupa! Ketika hendak tanding masak, masalah yang dihadapi master chef tersebut
adalah mengembalikan kemampuan agar indrawinya bekerja seperti sediakala,
setelah lama hidup sembarangan.
Umumnya, orang mengira urusan makanan hanya
berhubungan dengan lidah. Ternyata tidak. Master chef yang lama tidak memasak,
dalam film tersebut, ternyata harus melatih seluruh kemampuan indrawinya: mata,
telinga, hidung, kulit, dan tentu lidah. Kelima indranya harus sensitif
terhadap segala hal yang dihadapi. Dalam film tersebut, ditayangkan adegan
indranya ditusuk jarum akupuntur. Mungkin agar aliran darahnya atau
sensitivitas sarafnya normal lagi, sehingga kelima indra tersebut dapat
menentukan kualitas makanannya.
Sebagaimana fungsinya, pancaindra dipergunakan untuk
mengenali benda-benda material. Mata berfungsi untuk mengenali warna, bentuk,
dan gerak. Telinga untuk mengenali suara. Hidung untuk mengenali aroma. Kulit
untuk mengenali suhu dan tekstur. Dan lidah untuk mengenali rasa.
Makanan bukan hanya tentang rasa. Makanan dapat
diketahui dari jauh melalui aroma yang dibawa angin masuk ke dalam hidung. Kita
juga dapat mengetahui ada makanan karena mata melihat bentuk dan warnanya. Dari
aroma, bentuk, dan warna atau gerakan asap yang mengepul dari suatu makanan,
otak kita dapat memutuskan apakah kita tertarik untuk mencicip atau tidak. Jika
tertarik, makanan tersebut akan disentuh oleh kulit dan/atau kulit lidah kita.
Saat lidah merasakan, otak kita kembali memutuskan makanan tersebut enak,
lezat, atau tidak.
Pandangan Mata
Tampilan makanan mengundang selera banyak orang.
Bentuk dan warna makanan dapat membuat orang tergiur untuk mencicip atau malah
muak. Bentuk-bentuk atau warna-warna tertentu sangat disukai banyak orang.
Begitu pula sebaliknya, ada bentuk atau warna yang dibenci banyak orang. Tentu
ini sangat tergantung pada pengalaman masing-masing. Ada orang yang pernah
merasakan warna atau bentuk makanan tertentu itu sangat lezat, tetapi bagi
orang lain sangat menjijikkan. Jadi, tampilan makanan melahirkan berbagai
dugaan-dugaan dan harapan-harapan tentang rasa.
Banyak anak kecil yang tidak mau makan, kadang, sebenarnya
karena melihat tampilan makanan yang disuguhkan. Menghadapi masalah ini, orang
tuanya sering mengakali dengan menyembunyikan hidangannya, lalu menyuapkan
makanannya. Begitu si kecil tidak menolak, baru hidangannya ditunjukkan. Dengan
begitu, anak diharapkan memahami bahwa rasa makanan itu berasal tampilan yang
ditunjukkan. Anak kecil tersebut akhirnya dapat memahami dan menerima warna
atau bentuk makanan yang dianggapnya aneh tersebut sebagai makanan yang layak
ditelan.
Bagi juru masak, menampilkan makanan dengan warna dan
bentuk yang unik membutuhkan keterampilan tersendiri. Warna dan bentuk makanan
tentu ada yang sederhana dan ada pula yang rumit. Terkadang, tampilan yang
sederhana sebenarnya membutuhkan teknik yang rumit. Seorang chef atau juru
masak yang memiliki teknik atau keterampilan yang tinggi biasanya tergantung
pada “jam terbang”. Untuk sekadar memotong bawang, daun bawang, cabai, atau
apapun yang dimasak, terkadang tampak sederhana. Padahal bagi seorang pemula,
ternyata itu perkara yang sulit. Di sinilah kemampuan mencermati dengan mata
menjadi penting untuk menilai suatu makanan.
Sentuhan Kulit
Bagaimana dengan tekstur dan suhu? Melalui pandangan
mata, kadang kita dapat mengetahui tekstur dan suhu suatu makanan, apakah
makanan itu lembek atau keras dan dingin atau panas. Namun hasil penglihatan
ini bersifat dugaan sementara, dan harus dibuktikan dengan menyentuh dan/atau
menggigitnya. Melalui pandangan mata, dapat menentukan kita merasa jijik atau
menarik. Kadang terkesan renyah padahal keras. Seperti sudah dingin padahal
panas.
Jenis makanan ada yang lebih cocok dimakan saat panas
atau dingin. Ada juga makanan yang lebih dapat dinikmati ketika keras, renyah,
atau lembek. Jangan sampai suatu makanan justru melukai kulit kita, baik kulit
dalam maupun kulit organ dalam. Kulit, gigi, dan kulit lidah turut menentukan
apakah akan melanjutkan untuk memakan dan menghabiskan hidangan tersebut atau
tidak. Aman atau berbahaya jika dilanjutkan. Apabila makanan itu terlalu panas
atau terlalu dingin, kita akan meniup atau menunda untuk menyantap hidangan di
depan kita. Suhu makanan dapat berubah melalui cara memberikan suhu sebaliknya.
Begitu juga tekstur makanan. Makanan yang lembek tentu sangat muda diproses
oleh mulut untuk dikirim ke perut. Namun makanan yang keras memaksa gigi
bekerja lebih kuat untuk menghancurkan dan melembutkan makanan agar dapat
diterima usus dengan mudah.
Bagi seorang juru masak, sentuhan kulit adalah indra
penting untuk menghasilkan makanan yang lezat. Kadang saya melihat seorang koki
memasukkan bahan-bahan atau pelengkap rasa masakan tanpa melihat lagi apa yang
dimasukkan dalam alat masak. Suhu waktu masak juga dapat menghasilkan warna,
bentuk, dan tekstur makanan tertentu. Dan yang tidak kalah pentingnya, dia
harus menghasilkan makanan dengan tekstur yang sesuai dengan harapan
pemakannya.
Hirupan Hidung
Berbeda dengan aroma. Umumnya, aroma relasinya sangat
dengan rasa. Alam sepertinya telah menyediakan aroma yang sesuai dengan rasa.
Bau-bau sedap biasanya tidak jauh dari rasanya. Begitu juga bau busuk, segera
merangsang otak untuk menolak untuk mencicipinya. Meski demikian, bukan berarti
seluruh aroma memiliki kesamaan dengan rasa. Saya sering merasa mual pada aroma
makanan tertentu. Alih-alih menelannya, baru mendekat saja sudah muntah. Dalam
kondisi kelaparan, orang terpaksa menyantap makanan yang berbau busuk, namun
ternyata lezat juga. Akan tetapi, aroma sangat menentukan selera makan dalam
keadaan normal.
Bagi seorang juru masak, aroma dapat menjadi alat
ukur yang menentukan untuk menghasilkan makanan yang mengundang selera dan
lezat. Setiap bahan makanan memiliki aromanya masing-masing. Kemampuan untuk
memadukan berbagai aroma bahan yang dipergunakan hingga menghasilkan komposisi
aroma yang tepat bukanlah perkara mudah.
Pendengaran Telinga
Mungkin kita juga bertanya, apa hubungan suara dengan
makanan. Bukankah telinga tidak berhubungan sama sekali bagi makanan? Jangan
salah. Makanan adalah benda bertekstur, keras atau lembek. Manakala seseorang
mengunyah makanan, suara dari mulut akan sampai juga ke telinga, terutama
makanan bertekstur keras renyah, seperti kerupuk atau kripik. Memang ini
makanan sudah tahap masuk ke dalam mulut. Namun bagaimana kalau tahap sebelum
masuk ke mulut? Sensasi suara “kraus kraus kraus” orang yang sedang
mengunyah makanan kadang, tanpa sadar, merangsang selera kita untuk mencoba.
Orang makan yang menghasilkan suara tertentu kadang dapat membangkitkan
semangat untuk terus memakan dan mengundang orang lain untuk menikmati juga.
Bagi seorang juru masak, suara tampaknya cukup
penting untuk menghasilkan makanan yang mengundang selera dan lezat. Pada waktu
memasak, suara-suara yang dihasilkan berbagai alat saat bersentuhan dengan
bahan makanan menjadi pertimbangan tersendiri.
Selera Lidah
Pada dasarnya ada banyak rasa di dunia ini. Bukan
sekadar manis, pahit, asin, gurih, pedas, dan asam. Masing-masing rasa tersebut
dapat juga menghasilkan gradasi rasa gabungan dari semuanya. Satu-satunya indra
untuk memastikan rasa adalah lidah.
Lidah menjadi alat penguji dari berbagai rangsangan
yang dikirim oleh indra-indra lainnya. Dugaan dan harapan rasa yang dikirim
mata, hidung, telinga, dan kulit kepada otak akan diuji oleh lidah, apakah
sesuai dengan dugaan dan harapan atau tidak. Warna merah yang tampaknya manis
atau pedas apakah benar-benar manis atau pedas? Aroma yang kesannya kompleks
dengan rempah-rempah apakah benar-benar kompleks atau sederhana? Lidah akan
menguji secara tepat.
Posisi lidah tampaknya memang diciptakan dengan
struktur yang strategis dalam menilai dan memutuskan suatu makanan sebelum
dikirim ke dalam lambung, usus, dan disebar ke seluruh tubuh melalui darah. Orang
punya gigi atau tidak, lidah akan menerima makanan atau minuman untuk
melintasinya. Sekali lagi, ini normalnya. Kalau pakai selang tentu tidak
dibahas. Sentuhan lidah terhadap makanan atau minuman itu tiba-tiba memunculkan
informasi tentang rasa dalam pikiran seseorang.
Bagi seorang juru masak, rasa adalah pertaruhan
terakhir atas segala upaya yang telah dikerjakan. Tampilan boleh menarik, aroma
boleh menggoda, tetapi jika rasanya jeblok, bubar segala harapan. Rasa adalah
inti yang ingin disajikan kepada konsumen. Semua komposisi bahan benar-benar
telah dipersiapkan untuk mewujudkan rasa yang diharapkan. Tetapi, inti itu
tidak berdiri sendiri. Rasa yang hebat tanpa aroma dan tekstur yang mendukung,
ibarat drum sendirian tanpa gitar dan bass—masih berbunyi, namun tidak
membentuk lagu.
Otak
Otak telah menyimpan banyak data makanan dari
pengalaman hidup kita. Ia menata dan menyimpan berbagai makanan yang ditangkap
secara inderawi dalam memori. Saya bukan neurolog. Tapi sebagai penyuka
obrak-abrik web, saya suka membayangkan: indera itu front end—layar dan
sensor terdepan. Sementara memori adalah database, tempat semua rasa
tersimpan rapi. Dan ada sistem pengelola di dalam otak, semacam server atau back
end, yang menghubungkan keduanya. Ya, ini penyederhanaan. Tapi untuk
sekadar ngobrol santai soal rasa dan kenangan, analogi ini cukup jitu.
Setelah kita membahas bagaimana cara kerja inderawi
kita di atas, otak memang tidak bisa diabaikan. Sejauh mana pengalaman kita
dalam mengonsumsi atau bahkan terlibat di dapur sangat menentukan tingkat
selera kita dalam menilai makanan. Apa yang digambarkan para sineas di atas,
tampaknya sangat relevan. Ketika seseorang melihat, mencium, dan merasakan
suatu makanan atau minuman, yang muncul adalah kenangan. Tidak cukup orang
mengatakan, “Waw... ini enak banget!!!” sambil matanya terbelalak dan wajah
bodoh terbengong-bengong setelah mencicip makanan.
Menilai makanan adalah kerja otak yang terlatih dan memiliki
jam terbang tinggi. Saya yakin, penilai makanan pernah merasakan makanan yang
paling memuakkan dalam perjalanan hidupnya. Entah itu makanan yang sangat asin,
sangat gurih, sangat manis, sangat pedas, dan seterusnya. Dia juga pernah
tertipu oleh performa makanan yang indah, tapi hambar sama sekali.
Jadi, sudahkah Anda menikmati ketidakenakan suatu
makanan?! Cobalah...
Saya dulu benci pare. Tetapi setelah dewasa, saya
justru menikmati pahitnya, bukan karena rasanya berubah, namun karena saya
belajar bahwa pahit itu kadang menyehatkan. Saya jadi 'menikmati ketidakenakan'
pare.

Ketika makanan disantap oleh mata, hidung dan indera peraba. Bukan hanya dengan lidah....
BalasHapus